Terkait Kasus, Penyair Indonesia Ini Didepak Dari Singapore Writers Festival 2015

pojokseni.com – Panitia Singapore Writers Festival (SWF) 2015 akhirnya mendepak nama Sitok Srengenge, penyair Indonesia dari peserta festival bergengsi tersebut. Usut-punya usut ternyata hal tersebut berkaitan dengan kasus tuduhan pelecehan seksual yang dialamatkan pada Sitok Srengenge pada beberapa waktu lalu. Keputusan tersebut disampaikan panitia usai menerima surat terbuka yang ditandatangani oleh 133 orang dan 19 organisasi, mulai dari ulama, dosen mahasiswa, hingga aktivis.
Direktur SWF 2015, Yeow Kai Chai menyatakan bahwa panitia memang telah menarik Sitok Srengenge dari program tersebut. Hal tersebut dilakukan lantaran pemeriksaan terhadap Sitok Srengenge dan juga adanya protes dan keprihatinan dari sesama penulis dan sastrawan terkait hal yang diperbuat Sitok. Pencoretan nama Sitok sendiri dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2015.

“Di surat terbuka tersebut menyatakan Sitok Srengenge merupakan tersangka pada kasus pelecehan seksual tahun 2013 lalu,” ungkap Yeow Kai Chai seperti dilansir today online.

Selain itu, pada tahun selanjutnya, muncul petisi yang ditandatangani sekitar 2.400 orang yang meminta agar kasus tersebut segera diusut oleh kepolisian. Petisi tersebut juga memperkuat keyakinan panitia SWF 2015 untuk mencoret nama Sitok Srengenge dari daftar peserta.

Sementara itu, dalam SWF 2015 ada serangkaian acara yang bertajuk Focus Indonesia. Acara ini akan dikuratori oleh The Art House atau Rumah Seni yang didirikan oleh penyair Indonesia, Goenawan Muhammad. Dalam acara tersebut juga akan muncul dialog terkait feminisme dalam sastra Indonesia bersama Ayu Utami. Sedangkan Sitok Srengenga, sebenarnya sudah dijadwalkan untuk berbicara tentang puisi pada tanggal 31 Oktober 2015 mendatang. Namun, sepertinya acara itu sudah dihapus dari website resmi SWF 2015. (@pojokseni)

sumber: http://www.pojokseni.com/2015/10/terkait-kasus-penyair-indonesia-ini.html

Advertisements
Terkait Kasus, Penyair Indonesia Ini Didepak Dari Singapore Writers Festival 2015

KASUS SITOK: MANA LEBIH PENTING, KESUSASTRAAN ATAU KEMANUSIAAN?

Kasus Sitok: Mana lebih penting, kesusastraan atau kemanusiaan?

Kata Olin Monteiro, sastrawan itu harus punya value human rights dan perspektif gender
Febriana Firdaus
Published 9:06 PM, October 05, 2015
Updated 1:24 PM, October 06, 2015

Sitok Srengenge. Foto oleh Wikimedia

Sitok Srengenge. Foto oleh Wikimedia

JAKARTA, Indonesia—Perdebatan kehadiran penyair Sitok Srengenge di Singapore Writers Festival memunculkan sebuah pertanyaan di kalangan sastrawan, akademisi, dan aktivis perempuan.

Sebagian dari mereka tak keberatan jika Sitok hadir di acara kesusastraan yang diselenggarakan pada 3 Oktober hingga 8 November itu. Sebagian memprotes keras karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya terkandung dalam kesusastraan.

Siapa saja mereka?

Ayu Utami: Sitok berhak bicara tentang sastra

AYU UTAMI. Penulis. Foto oleh Twitter @BilanganFu

AYU UTAMI. Penulis. Foto oleh Twitter @BilanganFu

“Kalau festivalnya hak asasi manusia akan problematis, karena di dalamnya ada hak perempuan juga,” kata Ayu saat ditemui Rappler di Salihara, Minggu, 4 Oktober.

Dalam kasus Sitok dan SWF, ia sendiri menempatkan dirinya sebagai sastrawan, karena festival tersebut mengenai sastra bukan hak asasi manusia.

“Ya kalau kita bicara perkembangan kesusastraan, kalau saya merasa Sitok itu berhak. Tapi ya terserah. Saya kan mengerti juga perjuangan (aktivis perempuan) kan harus mengambil pilihan,” katanya.

Okky Madasari: Karya Sitok masih bisa diapresiasi tapi dia tak layak tampil

OKKY MADASARI. Penulis. Foto oleh Twitter @OkkyMadasari

OKKY MADASARI. Penulis. Foto oleh Twitter @OkkyMadasari

Penulis yang dikenal dengan novel Entrok ini mengaku sepakat bahwa sebuah karya sastra harus dipisahkan dari pengarangnya.

“Itu artinya, seorang pembunuh, seorang perampok, seorang koruptor, atau seorang pemerkosa bisa saja menulis karya yang berkualitas dan karya itu berhak untuk hidup, berhak untuk dinikmati dan diapreasiasi,” kata Okky pada Rappler, Senin, 5 Oktober.

Ia juga sepakat kesalahan seseorang tidak serta-merta mematikan haknya untuk berkarya. Karena itu penikmat sastra tetap bisa membaca karya seorang Sitok Srengenge, meski ia adalah tersangka kasus pemerkosaan.

Publik tetap tak punya hak untuk melarangnya menulis dan menerbitkan buku-buku baru meski kasus hukumnya masih berjalan.

“Tapi penampilan di depan publik adalah soal lain. Sitok adalah seorang tersangka, proses hukum masih berjalan. Status itu mengikat tubuh dan keberadaannya. Kehadiran di festival sastra sebagaimana rencana awal penampilannya di Singapore Writers Festival jelas berlawanan dengan semangat keadilan,” katanya.

Okky menambahkan, tersangka dalam kasus hukum biasanya dikenai status cekal untuk melarang mereka bepergian ke luar negeri untuk mencegah kabur.

Lebih dari itu, Ia percaya bahwa karya sastra ditulis, dibaca, diapresiasi untuk menjaga hati nurani dan akal sehat manusia.

“Sebagai penulis, saya percaya kita tak boleh diam atas segala bentuk ketidakadilan. Karena itu pula, saya bersikap dan turut mendukung surat penolakan tampilnya Sitok di Singapore Writers Festival,” katanya.

Naomi Srikandi: Sitok punya problem kemanusiaan

NAOMI SRIKANDI. Seniman, tinggal di Yogyakarta. Foto oleh Twitter @naomisrikandi

NAOMI SRIKANDI. Seniman, tinggal di Yogyakarta. Foto oleh Twitter @naomisrikandi

Seniman yang tinggal di Yogyakarta ini mengatakan bahwa kasus pemerkosaan yang sedang mendera Sitok bukan masalah ideologi.

“Ini bukan soal poligami atau perselingkuhan misalnya. Kekerasan seksual itu soal hak manusia atas kedaulatan tubuhnya yang dilanggar,” katanya.

“Jadi jangan dipisah-pisah bahwa itu cuma isu feminisme dan cuma aktivis feminisme yang relevan mempersoalkan kehadiran Sitok dalam panggung SWF,” katanya lagi.

Ia mengaku heran, jika ada seorang sastrawan yang memisahkan sastra dan kenyataan. “Sastra itu untuk apa? Sastra itu alat baca atas kenyataan yang ada,” katanya.

Ia tak keberatan jika buku Sitok didiskusikan dan dikritik. “Kalau bukunya Sitok mau didiskusikan, dikritik, silakan. Tapi kan ini orangnya dihadirkan bicara, sementara dia punya problem pelanggaran HAM yang kasusnya belum diselesaikan,” katanya.

“Kenyataan yang ada, bahwa Sitok tersangka kasus kejahatan seks itu justru jangan dipisahkan dari kritik atas karyanya,” katanya lagi.

Caroline Monteiro: Sastrawan harus punya kepedulian terhadap HAM dan gender

OLINE MONTEIRO. Penulis dan feminis. Foto diambil dari Facebook.

OLINE MONTEIRO. Penulis dan feminis. Foto diambil dari Facebook.

Aktivis perempuan Olin mengutarakan satu alasan mengapa ia tak setuju Sitok hadir di SWF: karena seorang sastrawan yang layak tampil adalah yang punya value atau nilai.

Ia mengutip Arundhati Roy, pengarang buku God of Small Things, bahwa seorang sastrawan harus membawa pesan, salah satunya adalah perspektif hak asasi manusia dan gender.

Produk sastra harus mewakili suara rakyat dan kritis. “Coba lihat bagaimana Pramoedya Ananta Toer menulis bagaimana rezim saat itu membunuhi warga pada 1965,” katanya.

Ia kemudian menegaskan, pelaku kekerasan bisa saja jadi sastrawan. “Tapi Sastrawan itu harus punya value human rights dan perpektif gender,” katanya.

Saat ini yang ia lihat, katanya, sastrawan terbagi menjadi dunia. Sastrawan industri atau sastrawan yang peduli terhadap masalah sosial.

Bahkan dari kasus Sitok, banyak sastrawan yang tidak punya perspektif korban pemerkosaan. “Korban itu traumanya seumur hidup,” katanya.

Dalam kasus Sitok ini, ia pun bertanya-tanya. “Mana yang lebih dulu kesusastraaan atau kemanusiaan?” —Rappler.com

sumber:

http://www.rappler.com/indonesia/108208-kasus-sitok-srengenge-tanggapan-sastrawan

KASUS SITOK: MANA LEBIH PENTING, KESUSASTRAAN ATAU KEMANUSIAAN?

RAMAI-RAMAI MENOLAK SITOK SRENGENGE DI SINGAPORE WRITERS FESTIVAL

Kata Ayu Utami, Sitok berhak tampil di Singapore Writers Festival sebagai sastrawan

Febriana Firdaus
Published 10:55 AM, October 05, 2015
Updated 10:38 AM, October 07, 2015

Sitok Srengenge. Foto oleh Wikimedia

Sitok Srengenge. Foto oleh Wikimedia

JAKARTA, Indonesia—Tercantumnya nama penyair Sitok Srengenge di Singapore Writers Festival menuai kontroversi. Aktivis perempuan ramai-ramai menolak Sitok yang sedang terjerat kasus dugaan pemerkosaan RW, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Penolakan tersebut diteriakkan di media sosial oleh aktivis perempuan Caroline Monteiro dan dosen sekaligus pendamping RW, Saras Dewi.

Ikatan Alumni dan dosen-dosen Universitas Indonesia bahkan menulis surat terbuka untuk SWF agar nama Sitok dicabut. Dalam surat itu, mereka menulis kekecewaan atas pencantuman nama Sitok.

“Sejak 2013, Sitok telah ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus dugaan pemerkosaan dan kekerasan seksual. Tiga remaja putri telah diperiksa dan dilaporkan ke polisi karena menderita kekerasan. Kasusnya saat ini masih dalam proses dan akan segera naik ke pengadilan,” tulis pernyataan bersama itu.

Di surat itu juga dicatumkan nama 133 pegiat seni dan aktivis, serta mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa yang mendukung kasus tersebut untuk dituntaskan.

Sitok sebelumnya dilaporkan ke polisi oleh seorang wanita berinisial RW, 22 tahun pada November 2013 atas dugaan pemerkosaan.

Penyair ini tidak membantah tudingan tersebut. Sitok menceritakan ia memang mengenal pelapor dan mengakui pernah berhubungan intim dengan RW atas dasar suka sama suka.

“Tapi tidak benar saya berniat membiarkan, apalagi lari dari tanggung jawab,”katanya.

Nama Sitok dicabut

Setelah desakan demi desakan, akhirnya nama Sitok dicabut dari daftar pembicara di Singapore Writers Festival yang diselenggarakan pada 3 Oktober hingga 8 November itu.

“Setelah meneliti dengan cermat, berdiskusi dengan mitra program kami dan Sitok Srengege, SWF memutuskan untuk mencabut namanya dari program,” cuit akun resmi @sgwritersfest di Twitter.

Ayu Utami: Sitok berhak tampil di SWF

Kawan Sitok, novelis Ayu Utami yang juga aktif bersama Sitok di Komunitas Salihara mengaku tak kaget dengan penolakan ini.

“Buat saya sih kalau itu dari protes dari kalangan feminis saya bisa mengerti. Jadi kalau kalangan feminis merasa keberatan karena kasusnya belum selesai, karena Sitok dianggap melakukan pemerkosaan, saya bisa mengerti,” katanya saat ditemui Rappler di Salihara, Minggu, 4 Oktober.

Ayu melanjutkan, ia akan mempertanyakan jika surat penolakan tersebut berasal dari kelompok sastrawan.

“Kalau festivalnya hak asasi manusia akan problematis, karena di dalamnya ada hak perempuan juga,” katanya. Dalam kasus Sitok dan SWF, ia sendiri menempatkan dirinya sebagai sastrawan, karena festival tersebut mengenai sastra bukan hak asasi manusia.

Ia mengatakan seharusnya Sitok berhak tampil di festival tersebut. “Ya kalau kita bicara perkembangan kesusastraan, kalau saya merasa Sitok itu berhak. Tapi ya terserah. Saya kan mengerti juga perjuangan (aktivis perempuan) kan harus mengambil pilihan,” katanya. —Rappler.com

sumber http://www.rappler.com/indonesia/108141-sitok-srengenge-singapore-writers-festival

RAMAI-RAMAI MENOLAK SITOK SRENGENGE DI SINGAPORE WRITERS FESTIVAL

Indonesian poet accused of sexual abuse booted from Singapore Writers Festival

http://www.straitstimes.com/lifestyle/arts/indonesian-poet-accused-of-sexual-abuse-booted-from-singapore-writers-festival

Lee Jian Xuan

SINGAPORE – Indonesian poet Sitok Srengenge has been booted from the line-up of this year’s Singapore Writers Festival, after allegations of his past sexual abuse were resurfaced in an open letter to the festival by Indonesian artists.

Festival director Yeow Kai Chai said that the festival had done so, after reviewing concerns raised and following discussions with Srengenge and its programming partner, The Arts House.

Srengenge was slated to give a poetry talk on Oct 31. His name was removed from the festival’s website on Sunday evening.

Along with other Indonesian writers, he had originally been part of 17,000 Islands Dreaming, a programme curated by The Arts House focusing on Indonesia’s literary history. Srengenge is a published author, actor, and playwright, who has been invited to literary festivals and writers’ workshops in countries such as the United States and the Netherlands.

His removal came shortly after the letter, signed by 133 members of the Indonesian public including artists, women’s rights activists and university students, was published online.

It referred to allegations that Srengenge had sexually abused a student from the University of Indonesia (UI), and noted that the case was “now still in progress pending to court”.

Srengenge now faces charges of indecent conduct, crimes against decency and obscenity. He is accused of impregnating a 22-year-old UI student and assaulting her several times in March 2013, according to an October 2014 report by Indonesian daily The Jakarta Post.

Two other women have also stepped forward with similar claims.

Allowing Srengenge to remain in the programme, the letter said, would fly in the face of “human rights, justice and equality of the sexes within literature”.

“We implore you to withdraw Sitok Srengenge… as a gesture of solidarity to a movement of eradicating banality of sexual violence in Indonesia,” it said.

Mr Yeow did not respond when asked by The Straits Times if Srengenge’s removal would affect programming, or if the festival would scrutinise invited speakers more carefully in future.

The Singapore Writers Festival: Island Of Dreams runs from Oct 30 to Nov 8. For more information, go to www.singaporewritersfestival.com.

Lee Jian Xuan

Indonesian poet accused of sexual abuse booted from Singapore Writers Festival

Writers’ festival drops Indonesian poet facing sex abuse allegations

Writers’ festival drops Indonesian poet facing sex abuse allegations

An Open Letter to the Singapore Writers Festival

First and foremost, we, Indonesians coming from various backgrounds and professions, are grateful for the interest shown by the festival’s officials for introducing Indonesian literature to Asian audiences. However, there is a profound concern that needs to be articulated, particularly in regards to one of your speakers, Sitok Srengenge. We are gravely disappointed that his name appears in your programs, considering the controversies relating to his misconduct. Since 2013, Sitok Srengenge has been named suspect for a case of rape and sexual violence. Three young women have gone on the record and reported the sexual abuse they suffered to the police. The case is now still in progress pending to court.

We understand that the Singapore Writers Festivals honors the spirit of human rights, justice and equality of the sexes within literature. By inducting Sitok Srengenge into your program, it will jeopardize those values. It is a long arduous road for Indonesians, especially women, to voice their tribulation fighting sexual violence. Survivors of sexual violence have often been scrutinized by biased, ignorant and patriarchal society. We believe literature is an instrument to voice their struggle and also a way to educate the society. Hence, we implore you to withdraw Sitok Srengenge’s name from the program as a gesture of solidarity to a movement of eradicating banality of sexual violence in Indonesia.

Alongside this open letter, we enclose you names of individuals who support this appeal. These individuals came from various backgrounds; scholars, professors, students, activists, poets, authors, and people from various reputable cultural and social communities, who have the sole concern of encouraging literature as a voice to those who have suffered from abuse. Through this letter, we hope that you will consider our argument and appeal.

Further information and contact person:

Saras Dewi: sarasdewi@yahoo.com, +6281286130254

Signatories – Individual

  1. Dr. Saras Dewi, philosophy lecturer, University of Indonesia
  2. Manneke Budiman, PhD, Vice Dean Faculties of Humanities, University of Indonesia
  3. Prof. Dr. Melani Budianta, Professor of Literature, University of Indonesia
  4. Tommy F. Awuy, artist and philosophy lecturer at University of Indonesia
  5. Dr. Kris Budiman, literature lecturer, Gajah Mada University
  6. Dr. Phil. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA, sociology lecturer, Gadjah Mada University
  7. Budi Irawanto, PhD, communication studies lecturer, Gadjah Mada University
  8. Intan Paramaditha, PhD, author, scholar
  9. Dr. Yerry Wirawan, history lecturer
  10. FX Harsono, visual artist
  11. Melati Suryodarmo, performance artist
  12. Dolorosa Sinaga, visual artist and lecturer in Jakarta Arts Institute
  13. Nursyahbani Katjasungkana, lawyer and women right activist
  14. Julia Suryakusuma, columnist for The Jakarta Post, feminist and author of Julia’s Jihad
  15. Damairia Pakpahan, feminist
  16. Ita Fatia Nadia, women right activist
  17. Valentina Sagala, gender consultant, writer and feminist
  18. Caroline Monteiro, writer, women documentary producer and feminist
  19. Faiza Mardzoeki, playwright, theatre producer and Director of Institut Ungu
  20. Tunggal Pawestri, feminist
  21. Yudi Ahmad Tajudin, theater director, dramaturg, choreographer
  22. Naomi Srikandi, theater director, playwright, actor
  23. Gunawan Maryanto, poet, theater director, actor
  24. Okky Madasari, novelist, founder of ASEAN Literary Festival
  25. Felencia Hutabarat, cultural activist
  26. Aquino Hayunta, human rights activist
  27. Yustina Neni, cultural activist
  28. Hafiz Rancajale, film maker, member of Jakarta Arts Council
  29. Farah Wardani, art historian
  30. Titarubi, visual artist
  31. Alia Swastika, visual arts curator and researcher
  32. Jompet Kuswidananto, visual artist
  33. Ugoran Prasad, author and dramaturg
  34. Prima Rusdi, screen writer
  35. Nuraini Juliastuti, researcher
  36. Grace Samboh, visual arts curator and researcher
  37. Mirwan Andan, cultural activist
  38. Martin Suryajaya, lecturer, writer
  39. Syaldi Sahude, human rights and New Men Movement activist
  40. Vitria Lazzarini Latief, psychologist and women rights activist
  41. Dhyta Caturani, human rights activist
  42. Muhammad Faisal Bustaman, human right activist
  43. Otty Widasari, visual artist, film maker
  44. Maulida Raviola, human rights activist
  45. Berto Tukan, writer and human rights activist
  46. Risky Summerbee, songwriter and musician
  47. Ruth Indiah Rahayu, human rights activist
  48. Erythrina Baskoro, actor and theater director
  49. Sri Qadariatin, actor
  50. Muhammad Nur Qomaruddin, actor
  51. Yennu Ariendra, musician
  52. Ignatius Sugiarto, stage and lighting artist
  53. Estu Fanani, human rights activist
  54. Afra Suci Ramadhan, human rights activist
  55. Shantoy Hades, human rights activist
  56. Inna Hudaya, social activist
  57. Amira Ruzuar, human rights activist
  58. Kukuh Septo W., human right activist
  59. Gama Triono, human rights activist, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  60. Purwantiningtyas F K Wuri, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  61. Mukhlis Hidayat Rifai, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  62. Mahfud Alfin, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  63. Arifin April, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  64. Esty Yulianingsih, PKBI Bantul (Indonesia Family Planning Association Bantul Chapter)
  65. Agus Triyanto, PKBI Kota Yogyakarta ((Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  66. Eko Priyantoro, PKBI Kulon Progo (Indonesia Family Planning Association, Kulon Progo Chapter)
  67. Tri Asmiyanto, PKBI Gunung Kidul (Indonesia Family Planning Association, Gunung Kidul Chapter)
  68. Mezzayu Luna Pramatarindya, PKBI Sleman (Indonesia Family Planning Association, Sleman Chapter)
  69. Maezur Zaky, PKBI DIY (Indonesia Family Planning Association, Yogyakarta Chapter)
  70. Nur Hidayah Perwitasari, journalist and member of Independent Journalist Alliance, Yogyakarta
  71. Sheila, activist of Transgender Association Yogyakarta -IWAYO
  72. Ahmad Syaifuddin, activist of Save Street Children Yogjakarta
  73. Retno, women rights activist, Rumpun Tjoet Nyak Dien (Women Domestic Workers Organization), Yogyakarta
  74. Any Sundari, NGO consultant of Yayasan Satunama
  75. Muhammad Trishadi, Chairperson, Student Union of Faculty of Humanities, University of Indonesia
  76. Wasingatu Zakiyah (Perkumpulan IDEA Yogyakarta)
  77. Ellin Rozana, women right activist and Director of Institut Perempuan Bandung
  78. Bonnie Kertaredja, Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta
  79. Jumiyem, Serikat Pekerja Rumah Tangga “Tunas Mulia” Yogyakarta
  80. Sargini, Serikat Pekerja Rumah Tangga “Tunas Mulia” Yogyakarta
  81. Enik Maslahah, Mitra Wacana Women Resource Center
  82. Sukiratnasari, advocate
  83. Asih Nur Chandra, labour right activist
  84. Mario Prajna Pratama, head of PLUSH
  85. Ika Ayu Kristianingrum, Yogyakarta Women Network
  86. Ignatia Alfa Gloria, Yogyakarta Women Network
  87. Tia Setiyani, Yogyakarta Women Network
  88. Nurmawati, Rifka Annisa
  89. Putri Khatulistiwa, Institut Hak Asasi Perempuan
  90. Yuliana Tri Nirmayanti M.Hum, director of Eager Beaver Learning Center
  91. Suharti Muklas, director Rifka Annisa
  92. Setiyani Martha Dewi, Yogyakarta Women Network
  93. Nurul Saadah Andriani, social activist
  94. Pipit Ambarmirah, Kiprah Perempuan (KIPPER) & Forum Pendidikan dan Perjuangan HAM
  95. Ahmad Sarkawi S.Sos.,M.Hum, director of Rumah Baca Komunitas
  96. Rini Rindawati, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak-SAPDA (Advocacy Centre for Difable Women and Children)
  97. Rindang Farihah, Director Mitra Wacana
  98. Bakhtiar Dwi Yunika, social activist
  99. Sani Dumonde, social activist
  100. Rosaria Indah, Institut Hak Asasi Perempuan (Women’s Rights Institute)
  101. Utamy Dewi, social activist
  102. Ferena Debineva, student of University of Indonesia
  103. Dimas Mahendra, student of University of Indonesia
  104. Roberto, student of University of Indonesia
  105. Billa Ashanika, student of University of Indonesia
  106. Efa Lathifah Tyas Utami, student of University of Indonesia
  107. Prameswari Noor, student of University of Indonesia
  108. Ratih Cahyani Putri, student of University of Indonesia
  109. Nabila Prita Fiandini, student of University of Indonesia
  110. Genta Maulana Mansyur, student of University of Indonesia
  111. Anindya Asri Hastungkara, student of University of Indonesia
  112. Ariani Dewi Setyaningtyas, student of University of Indonesia
  113. Ahadi Pradana, student of University of Indonesia
  114. Nabila Resya Utami, student of University of Indonesia
  115. Farina Chairunnisa, student of University of Indonesia
  116. Elva Sagita Cindra, student of University of Indonesia
  117. Talita Luna Siagian, student of University of Indonesia
  118. Budi Larasati, student of University of Indonesia
  119. Arung Samudera Adam, student of University of Indonesia
  120. Muhammad Arief Rahadian, student of University of Indonesia
  121. Firmansyah, student of University of Indonesia
  122. Joshua Ananggadipa Haryono, student of University of Indonesia
  123. Rindi Danika Sari, student of University of Indonesia
  124. Dhea Luciany Januar, student of University of Indonesia
  125. Erlita Putranti, student of University of Indonesia
  126. Nadya Zahwa Noor, student of University of Indonesia
  127. Nadhila Iffa Zakira, student of University of Indonesia
  128. Lisana Alia, student of University of Indonesia
  129. Mawar Kusuma Darina, student of University of Indonesia
  130. Dyah Pratiwi, student of University of Indonesia
  131. Perdana Putri, student of University of Indonesia
  132. Inas Amalia Putri, student of University of Indonesia
  133. Marlina Sopiana, student of University of Indonesia

Signatories – Organizations

  1. ILUNI FIB UI (Alumni Association of Faculty of Humanities, University of Indonesia)
  2. BEM FIB UI (Student Union of Faculty of Humanities, University of Indonesia)
  3. Aliansi Laki-Laki Baru (New Men Movement)
  4. Institut Perempuan Bandung (Bandung Women Institute)
  5. People Like Us Satu Hati – PLUSH
  6. Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak – SAPDA (Advocacy Centre for Difable Women and Children)
  7. Serikat PRT Tunas Mulia Yogyakarta
  8. Jaringan Perempuan Yogyakarta (Yogyakarta Women Network)
  9. Kiprah Perempuan (KIPPER)
  10. Forum Pendidikan dan Perjuangan HAM – FOPPERHAM (Human Rights Education and Advocacy Forum)
  11. Mitra Wacana (Women Resource Center)
  12. Serikat Perempuan Kinasih Yogyakarta (Women’s Rights Institution)
  13. Rumpun Gema Perempuan (Women’s Rights Institution)
  14. Institute Hak Asasi Perempuan (Women’s Rights Institute)
  15. Samsara (Women’s Rights Institution)
  16. Rifka Annisa (Women’s Crisis Center)
  17. Rumah Baca Komunitas Yogya (Yogyakarta Reading Community)
  18. Peace Women Across the Globe Indonesia (PWAG Indonesia)
  19. Arts for Women, Jakarta, Indonesia
An Open Letter to the Singapore Writers Festival